Tampilkan postingan dengan label Technopreneurship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Technopreneurship. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2018

GENERASI TECHNOPRENEURSHIP DI ERA GLOBALISASI



Pada era globalisasi ini, teknologi perkembang dengan sangat pesat. Ia hamper menguaai seluruh tatanan kehidupan. Pada era informasi yang semakin berkembang ini sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki jiwa kewirausahaan sangat dibutuhkan. Namun, ketika berada dilapangan kenyataannya hanya sedikit orang yang memiliki jiwa kewirausahaan. Di sisi lain, krisis ekonomi menyebabkan jumlah lapangan kerja tidak tumbuh, dan bahkan bangkrut. Dalam kondisi seperti ini, maka lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu berperan sebagai pencipta kerja. Keduanya memerlukan jiwa kewirausahaan.
Oleh karena itu, agar perguruan tinggi mampu memenuhi tuntutan tersebut, berbagai inovasi diperlukan diantaranya adalah inovasi pembelajaran dalam membangun generasi technopreneurship di era globalisasi ini. Ada suatu pendapat bahwa, saat ini sebagian besar lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih lemah jiwa kewirausahaannya. Sedangkan sebagian kecil yang telah memiliki jiwa kewirausahaan, umumnya karena berasal dari keluarga pengusaha atau pedagang. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa kewirausahaan merupakan jiwa yang bisa dipelajari dan diajarkan.
Seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan umumnya memiliki potensi menjadi pengusaha tetapi bukan jaminan menjadi pengusaha, dan pengusaha umumnya memiliki jiwa kewirausahaan. Proses pembelajaran yang merupakan inkubator bisnis berbasis teknologi ini dirancang sebagai usaha untuk mensinergikan teori (20%) dan Praktek (80%) dari berbagai kompetensi bidang ilmu yang diperoleh dalam bidang teknologi & industri. Inkubator bisnis ini dijadikan sebagai pusat kegiatan pembelajaran dengan atmosfer bisnis yang kondusif serta didukung oleh fasilitas laboratorium yang memadai.
Tujuan implementasi inovasi dari kegiatan inkubator bisnis berbasis teknologi ini adalah menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan mahasiswa sebagai peserta didik. Sedangkan manfaat yang diperoleh bagi institusi adalah tercapainya misi institusi dalam membangun generasi technopreneurship dan meningkatnya relevansi antara dunia pendidikan dengan dunia industri. Sedangkan manfaat bagi mitra kerja adalah terjalinnya kerja sama bisnis dan edukasi. Kerjasama ini dikembangkan dalam bentuk bisnis riil produk sejenis yang memiliki potensi ekonomi pasar yang cukup tinggi.
Proses globalisasi yang sedang terjadi saat ini, menuntut perubahan perekonomian Indonesia dari resourced based ke knowledge based. Resource based yang mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam umumnya menghasilkan komoditi dasar dengan nilai tambah yang kecil. Salah satu kunci penciptaan knowledge based economy adalah adanya technology entrepreneurs atau disingkat techno-preneur yang merintis bisnis baru dengan mengandalkan pada inovasi. Hightech business merupakan contoh klasik bisnis yang dirintis oleh technopreneurs.
Bisnis teknologi dunia saat ini didominasi oleh sektor teknologi informasi, bioteknologi dan material baru serta berbagai pengembangan usaha yang berbasiskan inovasi teknologi. Bisnis teknologi dikembangkan dengan adanya sinergi antara teknopreneur sebagai pengagas bisnis, Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian sebagai pusat inovasi teknologi baru, serta perusahaan modal ventura yang memiliki kompetensi dalam pendanaan. Jumlah usaha kecil menengah berbasis teknologi (UKMT) di Indonesia berkembang dengan pesat. Kecenderungan peningkatan ini lebih didorong oleh terbatasnya peluang kerja di industri-industri besar karena pengaruh krisis ekonomi dan mulai munculnya technopreneurship di kalangan lulusan pendidikan tinggi teknik.
Dalam menghadapi era globalisasi, persaingan akan semakin ketat, sehingga sangat dibutuhkan kebijakan-kebijakan dan aktivitas-aktivitas secara langsung yang dapat meningkatkan daya saing UKMT di kemudian hari. Kesulitan dan hambatan pada UKMT di Indonesia dalam mengembangkan usahanya adalah lemahnya jalur pemasaran, dukungan teknologi dan terbatasnya permodalan. Terlebih lagi, bagi pengusaha pemula, masalah ini akan terlihat lebih besar dan menjadi kendala cukup besar dalam mengembangkan usahanya.
Sampai saat ini belum banyak institusi pemerintah maupun swasta yang dapat memberikan dukungan secara langsung untuk pengembangan UKMT khususnya bagi pengusaha pemula. Sehingga sangat dibutuhkan suatu wadah yang dapat memberikan dukungan langsung berupa fasilitas-fasilitas yang dapat membantu UKMT khususnya membantu pengusaha pemula dalam melaksanakan dan mengembangkan usahanya.
Dalam rangka turut serta membantu dan mendukung secara langsung kegiatan UKMT khususnya kegiatan pengusaha pemula, maka dipandang sangat perlu untuk dapat membangun suatu wadah yang memiliki fasilitas yang dapat mendukung secara langsung kegiatan operasional, promosi, pemasaran, konsultasi teknologi produksi, investasi dan permodalan. Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut, diharapkan UKMT khususnya pengusaha pemula di Indonesia dapat mengembangkan usahanya lebih cepat dan terarah.
Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan jiwa bagi anak bangsa, semoga munculnya generasi technopreneurship dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan anak-anak kita dan juga Bangsa Indonesia.

Pengertian dan Contoh Technopreneurship


TECHNOPRENEURSHIP
Pada era globalisasi ini, perkembangan teknologi semakin pesat. Banyak sekali teknologi-teknologi yang setiap waktu muncul, misalnya barang-barang elektronik seperti handphone, laptop, televisi, dan lain-lain. Barang-barang tersebut tentu memiliki inovasi-inovasi yang menarik dan canggih setiap harinya. Perkembangan yang pesat ini menjadikan manusia mudah dalam mengerjakan segala sesuatunya, misalnya dalam hal komunikasi maupun berbisnis. Sangat disayangkan sekali apabila teknologi yang sangat canggih ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan teknologi ini disebut technopreneurship. Tentu kata tersebut sudah tidak asing lagi diteling kita. Namun jika kalian belum memahami tentang technopreneurship maka saya akan sedikit meberikan gambarannya.
            Technopreneurship berasal dari dua suku kata, yaitu technology dan entrepreneurship. Teknologi dalam hal ini adalah memanfaatkan alat-alat canggih yang berbasis teknologi. Sedangkan entrepreneurship merupakan orang yang melakukan sebuah kegiatan bisnis atau wirausaha yang dijalankan secara mandiri. Jika dari kedua pengertian tersebut digabung maka technopreneurship memiliki arti membangun dan menjalankan sebuah usaha dengan memanfaatkan teknologi dalam segala aktivitasnya guna mengembangkan bisnis atau usaha tersebut.

Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang bergerak dalam bidang technoreneurship. Mereka menjalankan bisnis dalam banyak bidang usaha, seperti kerajinan tangan, restaurant, fashion, dan lain-lain. Penggunaan teknologi dalam hal ini yaitu memanfaatkan teknologi informasi untuk memasarkan produk tersebut. Mereka membuat iklan di internet agar banyak orang yang melihat produk mereka sehingga produk yang mereka hasilkan bisa laku. Semakin lama perkembangan teknologi semakin pesat, sehingga banyak bermunculan bisnis di bidang technopreneurship. Hal ini tentu memicu persaingan antara orang-orang yang menjalankan technopreneurship. Mereka belomba-lomba mengembangkan bisnisnya dengan memasarkan produknya dan bergantung pada teknologi informasi.
            Salah satu contoh technopreneurship yaitu bisnis online. Di Indonesia saja saat ini sedang marak adanya sebuah bisnis yang dijalankan secara online. Dalam hal ini yang dimaksud yaitu yaitu pemasaran terhadap suatu produk yang dilakukan secara online dengan memanfaatkan internet. Contohnya yaitu pembuatan website, forum, dan blog yang mana hal tersebut menjadi jembatan antara penjual dan pembeli untuk saling berinteraksi dan melakukan transaksi. Ditambah lagi dengan adanya internet serice provider yang menyediakan fasilitas koneksi internet kepada penjual dan pembeli untuk selalu terhubung ke internet setiap saat. Sehingga konsumen tidak perlu datang jauh-jauh ke tempat penjual tersebut. Apalagi ditambah dengan semakin banyaknya pengguna aplikasi mobile di Indonesia, cukup dengan terhubung dan sambil bersantai di rumah, pembeli bisa membuka situs-situs online yang menyediakan barang ataupun jasa yang diperlukan. Hanya dengan menunggu hari, barang atau jasa yang diperlukan bisa sampai ke tangan kita.
            Seorang technopreneur bukan hanya sekedar ahli di bidang IT, akan tetapi seorang technopreneur juga harus memiliki ide-ide kreatif untuk mengembangkan usahanya. Inovasi, kemampuan di bidang IT, dan kemampuan dalam berwirausaha merupakan hal yang wajib dimiliki oleh technopreneur. Jika ketiga skill tersebut dimiliki maka bisnis yang dijalani oleh technoprener akan berjalan dengan baik dan akan memperoleh keuntungan yang maksimal. Enstein mengatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada pengetahuan itu sendiri karena imajinasi mencakup hal yang lebih luas daripada pengetahuan. Sehingga kretivitas merupakan kunci untuk mendorong inovasi seseorang. Belajarlah kreativitas, belajarlah berinovasi dari yang terkecil sampai yang besar.